A. Tradisi Tingkepan
Tradisi tingkepan disebut juga dengan
tradisi mitoni. Tradisi ini merupakan slametan untuk bayi yang masih didalam
kandungan selama empat bulan atau tujuh bulan. Tradisi ini dilakukan dengan slametan.
Batas empat atau tujuh bulan merupakan symbol budi pekerti agar hubungan suami
istri tidak lagi dilakukan agar anak yang yang akan lahir berjalan dengan
lancer dan baik. Istilah menthuk (menjemput) dalam istilah jawa, dapat
dilakukan sebelum bayi berumur tujuh bulan. Ini menunjukkan sikap hati-hati
orang jawa dalam menjalankan kewajiban luhur. Itulah sebabnya, bayi yang
berumur tujuh bulan harus disertai laku prihatin.
Dalam tradisi ini banyak yang
berpartisipasi, biasanya mengundang saudara-saudara dan tetangga disekitar,
terdapat sekitar 60-an orang yang diundang dalam tradisi ini, tetapi undangan
tekadang tidak selalu berjumlah 60 tetapi ada yang kurang dari 60 bahkan ada
yang lebih dari 60 orang. Tradisi ini dilakukan sesuai dengan penanggalan jawa
pada tanggal 7, 17 atau 27.
Langkah
tradisi tingkepan
1. Melakukan
siraman kepada wanita hamil. Yang akan menyiram biasanya ganjil lima, tujuh
atau Sembilan. Siraman ini dilakukan oleh ayah wanita hamil, ibu wanita hamil,
suami, dan sisanya boleh dari keluarga yang lain. Siraman ini bertujuan untuk memohon
doa restu agar proses persalinan lancer dan anak yang akan dilahirkan selamat
dan sehat jasmani rohani. Siraman ini banyak dilakukan oleh orang tua yang
sudah memiliki cucu. Air yang digunakan dalam siraman ini harus disertai dengan
kembang atau bunga setaman dan doa-doa khusus.
2. Memasukkan
telur kedalam sarung atau kain. Tradisi ini dilakukan oleh suami dari wanita
hamil tersebut. Jadi wanita hamil tersebut memakai sarung atau kain yang akan
di masukkan telur. Calon ayah atau suami wanita hamil tersebut memasukkan telur
ayam mentah ke dalam sarung atau kain yang dikenakan oleh instrinya melalui
perut sampai pecah kemudian dilanjutkan dengan memasukkan cengkir gading dari
atas kedalam kain yang dipakai oleh calon ibu sambil diterima dibawah oleh
calon nenek dan kelapa gading tersebut digendong oleh calon nenek dan
diletakkan sementara di kamar. Hal ini merupakan symbol harapan semoga bayi
akan lahir dengan mudah tanpa ada halangan.
Sebelum calon ibu melakukan siraman
biasanya terdapat tradisi takir plontang yaitu tradisi membuat wadah lauk yang
terbuat dari janur yang dikepang. Takir plontang ini digunakan untuk wadah lauk
dalam slametan. Biasanya slametan terdapat nasi dan lauk yang disajikan. Takir
plontang inilah yang menjadi wadah dari lauk.
Makanan atau hidangan yang ada dalam
tradisi tingkepan ini yaitu:
1. Tujuh
macam bubur
2. Tumpeng
kuat, yang bermakna supaya bayi yang lahir sehat dan kuat.
3. Jajan
pasar, pembelian jajan ini diharuskan beli dipasar langsung yaitu berupa kue,
buah,makanan ringan.
4. Rujak
buah-buahan tujuh macam, rujak ini adalah hidangan yang harus ada dalam tradisi
tingkepan ini. biasanya rujak dihidangkan dengan sebaik-baiknya dan enak karena
rujak ini bermakna supaya anak yang akan dilahirkan menyenangkan dala m
keluarga.
5. Dawet,
ini bermakna supaya menyegarkan.
6. Keleman
atau umbi-umbian sebanyak tujuh macam.
B. Duduk pedemi
Tradisi ini merupakan tradisi yang
paling awal untuk seseorang yang akan membuat rumah. Tradisi ini terdapat
banyak orang yang berpartisipasi. Biasanya terdapat kurang lebih 40 orang.
Orang- orang ini biasanya dari keluarga yang akan membuat rumah dan
tetangga-tengga disekitar. Tradisi ini dilakukan oleh para laki-laki. Dalam
tradisi ini laki-laki membantu untuk membuat pondasi rumah. Biasanya ada yang
bertugas mengangkat pasir, membuat galian lubang dan sebagainya. Tetapi selain
laki-laki juga masih terdapat perempuan yang membantu tetapi tugas perempuan
disini membuat makanan atau hidangan yang akan disajikan untuk laki-laki.
Makanan yang disediakan biasanya nasi dengan lauk pauknya yang terdiri dari
daging sapi atau daging ayam, kare, rawon, lodeh dan makanan yang lainnya.
Selain makanan berat juga terdapat makanan ringan atau cemilan-cemilan seperti
gorengan, krupuk, kacang dan sebagainya. Makan berat disajikan pada pagi hari
sebelum laki-laki melakukan atau membantu membuat pondasi rumah dan diwaktu
siang hari ketika waktu istirahat bahkan disaat pekerjaan selesai.
Tradisi ini dilaksanakan dalam sehari
dari pagi hari pukul 07.00 hingga siang hari tidak pasti pukul berapa karena
selsainya tradisi ini tergantung pada jumlah warga yang ikut membantu. Semakin
banyak orang yang membantu akan semakin cepat pula tradisi duduk pedemi ini
selesai. Karena tradisi ini hanya membuat kerangka atau pondasi rumah makan
dari itu tradisi ini hanya dilaksanakan dalan kurun waktu kurang dari sehari.
Sebelum tradisi ini dilaksanakan
terdapat kepercayaan jawa yang menyatakan bahwa yang akan memiliki atau
menempati rumah harus menggali tanah disudut-sudut rumah yang akan dibangun
sebelum semua orang ikut membantu membuat pondasi rumah tersebut.
Langkah-langkah duduk pedemi
1. Calon
pemilik rumah mencari hari atau tanggal yang baik kepada orang yang mengerti
mengenai tanggalan jawa. Hal ini dilakukan menurut kepercayaan orang jawa.
Tujuannya yaitu supaya rumah yang akan ditempati nyaman, aman, tidak ada
halangan atau gangguan atau hal buruk yang lain.
2. Membuat
tumpeng sebagai slametan rumah baru yang akan disajikan kepada laki-laki yang
akan membantu membuat rumah. Tumpeng ini disajikan pada pagi hari sebelum para
laki-laki melakukan duduk pedemi.
3. Duduk
pedemi. Disini para laki-laki mulai membuat pondasi rumah.
C. Slametan orang meninggal
Terdapat banyak tradisi slametan yang
dilakukan orang jawa dalam kematian seseorang, yaitu :
1. Hari
kematian atau geblake
Geblake
ini merupakan hari dimana seseorang meninggal.
2. Tiga
harian
Dalam tiga harian ini biasanya keluarga
yang ditinggalkan mengadakan tahlilan yang dihadiri kurang lebih 80 orang yang
terdiri dari tetangga disekitar rumah orang yang meninggal tersebut. Bacaan
yang dibaca dalam tiga harian ini bacaan tahlil seperti pada umumnya.
Tiga harian ini juga terdapat makanan
ringan yang akan disajikan untuk orang-orang yang mengikuti tahlil dirumah
orang yang meninggal. Istilahnya yaitu suguhan.
3. Tujuh
harian
Tujuh harian sama dengan pada tiga
harian yang membedakan biasanya di hari ketujuh kematian seseorang ini yang
melakukan tahlil di rumah yang meninggal disuguhkan dengan makanan berat
misalkan nasi dengan lauk yang bermacam-macam tetapi tetap dengan suguhan
makanan ringan yang ada di tiga harian.
Tradisi tahlil ini tidak hanya dilakukan
pada hari ketiga ataupun ketujuh melainkan setiap hari dari geblak(hari
kematian) sampai hari ketujuh kematian.
4. 40
harian
Biasanya dari hari ketujuh kematian
keluarga tetap mengadakan tahlil tetapi hanya pada hari kamis hingga pada 40
hari kematian.
40 harian ini juga dilakukan sama hanya
dengan tiga atau tujuh harian. Bacaan ataupun makanan yang dihidangkan juga
sama. Biasanya orang yang mengikuti tahlil mendapat berkat (makanan yang
terdapat nasi, lauk, jajanan pasar seperti apem, brubi, bikang dan sebaginya)
di akhir acara tahlil
5. 100
harian
100 harian ini biasanya dilakukan dari
pagi hingga malam hari. Dalam 100 hari ini disaat pagi mengadakan mengaji
Al-qur’an yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu-ibu tapi terkadang juga ada
laki-laki atau bapak-bapak yg mengaji. Mengaji Al-qur’an ini sampai siang hari.
Selesai mengaji ibu-ibu yang mengaji akan diberi berkat(makanan yang terdapat
nasi, lauk, jajanan pasar seperti apem, brubi, bikang dan sebaginya) bahkan
tuan rumah juga memberikan uang sebagai upah mengaji.
Dalam 100 harian ini biasanya keluarga
yang ditinggalkan mengundang keluarga dan tetangga sekitar.
Dan pada saat malam hari diadakannya
tahlilan yang dilakukan sama dengan seperti hari ketiga, ketujuh, maupun 40.
Yang mengikuti tahlil juga akan diberi berkat pada akhir acara.
6. Pendak
siji (satu tahun kemudian kematian)
Pendak siji ini sama dengan tahlil pada
hari- hari sebelumnya namun di pendak siji ini ditambahi dengan kirim doa
keluarga- keluarga yang meninggal sebelumnya.
7. Pendak
loro (dua tahun kemudian kematian)
Pendak siji ini sama dengan tahlil pada
hari- hari sebelumnya namun di pendak siji ini ditambahi dengan kirim doa
keluarga- keluarga yang meninggal sebelumnya.
8. 1000
harian
Sama dengan tahlilan atau slametan pada
100 hari kematian.
Makanan
atau jajan yang harus ada dalam tradisi kematian ini adalah apem. Menurut
kepercayaan orang jawa kata apem merupakan ampunan. Diharuskannya jajan ini
karena supaya orang yang meninggal mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
D. Liwetan orang hamil pada waktu gerhana
Menurut kepercayaan orang jawa tradisi
ini dilakukan supaya anak yang akan dilahirkan tidak cacat.
Tradisi ini disebut juga dengan liwetan
yang artinya menanak nasi. Tradisi ini dilakukan ketika bulan mulai redup. Jika
gerhana total si ibu hamil ini biasanya disuruh untuk menggigit kreweng
(pecahan genteng) sambil tangannya mengelus perutnya. Karena menurut orang jawa
gerhana bulan, bulan tersebut dimakan oleh makhluk jahat.
Kemudian ibu hamil menyelundup kolong
tempat tidur dengan tetap menggigit kreweng. Bersamaan dengan itu anak-anak
yang datang di suruh untuk bergelantungan di pohon disekitar rumah yang
dijadikan tempat liwetan tersebut dengan makna bahwa dengan adanya anak yang
bergelantungan di pohon itu diharapkan bayi yang dikandung nantinya akan lahir
dengan lancer dan sempurna tanpa cacat.
Diakhir tradisi ini semua orang
menyantap makanan yang telah dimasak oleh si ibu hamil dan ibu-ibu sekitar
tadi. Ini merupakan tradisi yang menandakan bahwa acara sudah berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar