Kamis, 01 Juni 2017

Tradisi di Jawa Timur

A.    Tradisi Tingkepan
Tradisi tingkepan disebut juga dengan tradisi mitoni. Tradisi ini merupakan slametan untuk bayi yang masih didalam kandungan selama empat bulan atau tujuh bulan. Tradisi ini dilakukan dengan slametan. Batas empat atau tujuh bulan merupakan symbol budi pekerti agar hubungan suami istri tidak lagi dilakukan agar anak yang yang akan lahir berjalan dengan lancer dan baik. Istilah menthuk (menjemput) dalam istilah jawa, dapat dilakukan sebelum bayi berumur tujuh bulan. Ini menunjukkan sikap hati-hati orang jawa dalam menjalankan kewajiban luhur. Itulah sebabnya, bayi yang berumur tujuh bulan harus disertai laku prihatin.
Dalam tradisi ini banyak yang berpartisipasi, biasanya mengundang saudara-saudara dan tetangga disekitar, terdapat sekitar 60-an orang yang diundang dalam tradisi ini, tetapi undangan tekadang tidak selalu berjumlah 60 tetapi ada yang kurang dari 60 bahkan ada yang lebih dari 60 orang. Tradisi ini dilakukan sesuai dengan penanggalan jawa pada tanggal 7, 17 atau 27.
Langkah tradisi tingkepan
1.      Melakukan siraman kepada wanita hamil. Yang akan menyiram biasanya ganjil lima, tujuh atau Sembilan. Siraman ini dilakukan oleh ayah wanita hamil, ibu wanita hamil, suami, dan sisanya boleh dari keluarga yang lain. Siraman ini bertujuan untuk memohon doa restu agar proses persalinan lancer dan anak yang akan dilahirkan selamat dan sehat jasmani rohani. Siraman ini banyak dilakukan oleh orang tua yang sudah memiliki cucu. Air yang digunakan dalam siraman ini harus disertai dengan kembang atau bunga setaman dan doa-doa khusus.
2.      Memasukkan telur kedalam sarung atau kain. Tradisi ini dilakukan oleh suami dari wanita hamil tersebut. Jadi wanita hamil tersebut memakai sarung atau kain yang akan di masukkan telur. Calon ayah atau suami wanita hamil tersebut memasukkan telur ayam mentah ke dalam sarung atau kain yang dikenakan oleh instrinya melalui perut sampai pecah kemudian dilanjutkan dengan memasukkan cengkir gading dari atas kedalam kain yang dipakai oleh calon ibu sambil diterima dibawah oleh calon nenek dan kelapa gading tersebut digendong oleh calon nenek dan diletakkan sementara di kamar. Hal ini merupakan symbol harapan semoga bayi akan lahir dengan mudah tanpa ada halangan.
Sebelum calon ibu melakukan siraman biasanya terdapat tradisi takir plontang yaitu tradisi membuat wadah lauk yang terbuat dari janur yang dikepang. Takir plontang ini digunakan untuk wadah lauk dalam slametan. Biasanya slametan terdapat nasi dan lauk yang disajikan. Takir plontang inilah yang menjadi wadah dari lauk.
Makanan atau hidangan yang ada dalam tradisi tingkepan ini yaitu:
1.      Tujuh macam bubur
2.      Tumpeng kuat, yang bermakna supaya bayi yang lahir sehat dan kuat.
3.      Jajan pasar, pembelian jajan ini diharuskan beli dipasar langsung yaitu berupa kue, buah,makanan ringan.
4.      Rujak buah-buahan tujuh macam, rujak ini adalah hidangan yang harus ada dalam tradisi tingkepan ini. biasanya rujak dihidangkan dengan sebaik-baiknya dan enak karena rujak ini bermakna supaya anak yang akan dilahirkan menyenangkan dala m keluarga.
5.      Dawet, ini bermakna supaya menyegarkan.
6.      Keleman atau umbi-umbian sebanyak tujuh macam.

B.     Duduk pedemi
Tradisi ini merupakan tradisi yang paling awal untuk seseorang yang akan membuat rumah. Tradisi ini terdapat banyak orang yang berpartisipasi. Biasanya terdapat kurang lebih 40 orang. Orang- orang ini biasanya dari keluarga yang akan membuat rumah dan tetangga-tengga disekitar. Tradisi ini dilakukan oleh para laki-laki. Dalam tradisi ini laki-laki membantu untuk membuat pondasi rumah. Biasanya ada yang bertugas mengangkat pasir, membuat galian lubang dan sebagainya. Tetapi selain laki-laki juga masih terdapat perempuan yang membantu tetapi tugas perempuan disini membuat makanan atau hidangan yang akan disajikan untuk laki-laki. Makanan yang disediakan biasanya nasi dengan lauk pauknya yang terdiri dari daging sapi atau daging ayam, kare, rawon, lodeh dan makanan yang lainnya. Selain makanan berat juga terdapat makanan ringan atau cemilan-cemilan seperti gorengan, krupuk, kacang dan sebagainya. Makan berat disajikan pada pagi hari sebelum laki-laki melakukan atau membantu membuat pondasi rumah dan diwaktu siang hari ketika waktu istirahat bahkan disaat pekerjaan selesai.
Tradisi ini dilaksanakan dalam sehari dari pagi hari pukul 07.00 hingga siang hari tidak pasti pukul berapa karena selsainya tradisi ini tergantung pada jumlah warga yang ikut membantu. Semakin banyak orang yang membantu akan semakin cepat pula tradisi duduk pedemi ini selesai. Karena tradisi ini hanya membuat kerangka atau pondasi rumah makan dari itu tradisi ini hanya dilaksanakan dalan kurun waktu kurang dari sehari.
Sebelum tradisi ini dilaksanakan terdapat kepercayaan jawa yang menyatakan bahwa yang akan memiliki atau menempati rumah harus menggali tanah disudut-sudut rumah yang akan dibangun sebelum semua orang ikut membantu membuat pondasi rumah tersebut.
            Langkah-langkah duduk pedemi
1.      Calon pemilik rumah mencari hari atau tanggal yang baik kepada orang yang mengerti mengenai tanggalan jawa. Hal ini dilakukan menurut kepercayaan orang jawa. Tujuannya yaitu supaya rumah yang akan ditempati nyaman, aman, tidak ada halangan atau gangguan atau hal buruk yang lain.
2.      Membuat tumpeng sebagai slametan rumah baru yang akan disajikan kepada laki-laki yang akan membantu membuat rumah. Tumpeng ini disajikan pada pagi hari sebelum para laki-laki melakukan duduk pedemi.
3.      Duduk pedemi. Disini para laki-laki mulai membuat pondasi rumah.

C.    Slametan orang meninggal
Terdapat banyak tradisi slametan yang dilakukan orang jawa dalam kematian seseorang, yaitu :
1.      Hari kematian atau geblake
Geblake ini merupakan hari dimana seseorang meninggal.
2.      Tiga harian
Dalam tiga harian ini biasanya keluarga yang ditinggalkan mengadakan tahlilan yang dihadiri kurang lebih 80 orang yang terdiri dari tetangga disekitar rumah orang yang meninggal tersebut. Bacaan yang dibaca dalam tiga harian ini bacaan tahlil seperti pada umumnya.
Tiga harian ini juga terdapat makanan ringan yang akan disajikan untuk orang-orang yang mengikuti tahlil dirumah orang yang meninggal. Istilahnya yaitu suguhan.
3.      Tujuh harian
Tujuh harian sama dengan pada tiga harian yang membedakan biasanya di hari ketujuh kematian seseorang ini yang melakukan tahlil di rumah yang meninggal disuguhkan dengan makanan berat misalkan nasi dengan lauk yang bermacam-macam tetapi tetap dengan suguhan makanan ringan yang ada di tiga harian.
Tradisi tahlil ini tidak hanya dilakukan pada hari ketiga ataupun ketujuh melainkan setiap hari dari geblak(hari kematian) sampai hari ketujuh kematian.
4.      40 harian
Biasanya dari hari ketujuh kematian keluarga tetap mengadakan tahlil tetapi hanya pada hari kamis hingga pada 40 hari kematian.
40 harian ini juga dilakukan sama hanya dengan tiga atau tujuh harian. Bacaan ataupun makanan yang dihidangkan juga sama. Biasanya orang yang mengikuti tahlil mendapat berkat (makanan yang terdapat nasi, lauk, jajanan pasar seperti apem, brubi, bikang dan sebaginya) di akhir acara tahlil
5.      100 harian
100 harian ini biasanya dilakukan dari pagi hingga malam hari. Dalam 100 hari ini disaat pagi mengadakan mengaji Al-qur’an yang biasanya dilakukan oleh kaum ibu-ibu tapi terkadang juga ada laki-laki atau bapak-bapak yg mengaji. Mengaji Al-qur’an ini sampai siang hari. Selesai mengaji ibu-ibu yang mengaji akan diberi berkat(makanan yang terdapat nasi, lauk, jajanan pasar seperti apem, brubi, bikang dan sebaginya) bahkan tuan rumah juga memberikan uang sebagai upah mengaji.
Dalam 100 harian ini biasanya keluarga yang ditinggalkan mengundang keluarga dan tetangga sekitar.
Dan pada saat malam hari diadakannya tahlilan yang dilakukan sama dengan seperti hari ketiga, ketujuh, maupun 40. Yang mengikuti tahlil juga akan diberi berkat pada akhir acara.
6.      Pendak siji (satu tahun kemudian kematian)
Pendak siji ini sama dengan tahlil pada hari- hari sebelumnya namun di pendak siji ini ditambahi dengan kirim doa keluarga- keluarga yang meninggal sebelumnya.
7.      Pendak loro (dua tahun kemudian kematian)
Pendak siji ini sama dengan tahlil pada hari- hari sebelumnya namun di pendak siji ini ditambahi dengan kirim doa keluarga- keluarga yang meninggal sebelumnya.
8.      1000 harian
Sama dengan tahlilan atau slametan pada 100 hari kematian.
Makanan atau jajan yang harus ada dalam tradisi kematian ini adalah apem. Menurut kepercayaan orang jawa kata apem merupakan ampunan. Diharuskannya jajan ini karena supaya orang yang meninggal mendapatkan ampunan dari Allah SWT.
D.    Liwetan orang hamil pada waktu gerhana
Menurut kepercayaan orang jawa tradisi ini dilakukan supaya anak yang akan dilahirkan tidak cacat.
Tradisi ini disebut juga dengan liwetan yang artinya menanak nasi. Tradisi ini dilakukan ketika bulan mulai redup. Jika gerhana total si ibu hamil ini biasanya disuruh untuk menggigit kreweng (pecahan genteng) sambil tangannya mengelus perutnya. Karena menurut orang jawa gerhana bulan, bulan tersebut dimakan oleh makhluk jahat.
Kemudian ibu hamil menyelundup kolong tempat tidur dengan tetap menggigit kreweng. Bersamaan dengan itu anak-anak yang datang di suruh untuk bergelantungan di pohon disekitar rumah yang dijadikan tempat liwetan tersebut dengan makna bahwa dengan adanya anak yang bergelantungan di pohon itu diharapkan bayi yang dikandung nantinya akan lahir dengan lancer dan sempurna tanpa cacat.

Diakhir tradisi ini semua orang menyantap makanan yang telah dimasak oleh si ibu hamil dan ibu-ibu sekitar tadi. Ini merupakan tradisi yang menandakan bahwa acara sudah berakhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menggapai Keistimewaan Ramadhan dengan Memperbaiki Diri

Bagaimana  S eorang  M uslim  M enyambut  B ulan Ramadhan? Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan, padanya dilipatgandakan ...