Islamisasi di Indonesia
Pada masa
kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia terdapat beraneka ragam suku
bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, dan sosial budaya. Suku
bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di daerah-daerah pedalaman, jika
dilihat dari sudut antropologi budaya, belum banyak mengalami percampuran
jenis-jenis bangsa dan budaya dari luar, seperti dari India, Persia, Arab, dan
Eropa. Struktur sosial, ekonomi, dan budayanya agak statis dibandingkan dengan
suku bangsa yang mendiami daerah pesisir. Mereka yang berdiam di pesisir,
lebih-lebih di kota pelabuhan, menunjukkan ciri-ciri fisik dan sosial budaya
yang lebih berkembang akibat percampuran dengan bangsa dan budaya dari luar.
Proses Islamisasi di Indonesia
Dalam masa
kedatangan dan penyebaran Islam di Indonesia, terdapat negara-negara yang
bercorak Indonesia-Hindu. Di Sumatra terdapat kerajaan Sriwijaya dan Melayu; di
Jawa, Majapahit; di Sunda, Pajajaran; dan di Kalimantan, Daha dan Kutai.
Agama Islam yang datang ke Indonesia mendapat
perhatian khusus dari kebanyakan rakyat yang telah memeluk agama Hindu. Agama
Islam dipandang lebih baik oleh rakyat yang semula menganut agama Hindu, karena
Islam tidak mengenal kasta, dan Islam tidak mengenal perbedaan golongan dalam
masyarakat. Daya penarik Islam bagi pedagang-pedagang yang hidup di bawah
kekuasaan raja-raja Indonesia-Hindu agaknya ditemukan pada pemikiran orang
kecil. Islam memberikan sesuatu persamaan bagi pribadinya sebagai anggota
masyarakat muslim. Sedangkan menurut alam pikiran agama Hindu, ia hanyalah
makhluk yang lebih rendah derajatnya daripada kasta-kasta lain. Di dalam Islam,
ia merasa dirinya sama atau bahkan lebih tinggi dari pada orang-orang yang
bukan muslim, meskipun dalam struktur masyarakat menempati kedudukan bawahan.
Proses
islamisasi di Indonesia terjadi dan dipermudah karena adanya dukungan dua
pihak: orang-orang muslim pendatang yang mengajarkan agama Islam dan golongan
masyarakat Indonesia sendiri yang menerimanya. Dalam masa-masa kegoncangan
politik , ekonomi, dan sosial budaya, Islam sebagai agama dengan mudah dapat
memasuki & mengisi masyarakat yang sedang mencari pegangan hidup,
lebih-lebih cara-cara yg ditempuh oleh orang-orang muslim dalam menyebarkan
agama Islam, yaitu menyesuaikan dengan kondisi sosial budaya yang telah ada.
Dengan demikian, pada tahap permulaan islamisasi dilakukan dengan saling
pengertian akan kebutuhan & disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya.
Pembawa dan penyebar agama Islam pada masa-masa permulaan adalah golongan
pedagang, yang sebenarnya menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai
pendorong utama untuk berkunjung ke Indonesia. Hal itu bersamaan waktunya
dengan masa perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional antara
negeri-negeri di bagian barat, tenggara, dan timur Asia. Kedatangan
pedagang-pedagang muslim seperti halnya yang terjadi dengan perdagangan sejak
zaman Samudra Pasai dan Malaka yang merupakan pusat kerajaan Islam yang
berhubungan erat dengan daerah-daerah lain di Indonesia, maka orang-orang
Indonesia dari pusat-pusat Islam itu sendiri yang menjadi pembawa dan penyebar
agama Islam ke seluruh wilayah kepulauan Indonesia.
Tata cara
islamisasi melalui media perdagangan dapat dilakukan secara lisan dengan jalan
mengadakan kontak secara langsung dengan penerima, serta dapat pula terjadi
dengan lambat melalui terbentuknya sebuah perkampungan masyarakat muslim
terlebih dahulu. Para pedagang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri,
berkumpul dan menetap, baik untuk sementara maupun untuk selama-lamanya, di suatu
daerah, sehingga terbentuklah suatu perkampungan pedagang muslim. Dalam hal ini
orang yang bermaksud hendak belajar agama Islam dapat datang atau memanggil
mereka untuk mengajari penduduk pribumi.
Selain itu, penyebaran agama Islam dilakukan
dgn cara perkawinan antara pedagang muslim dgn anak-anak dari orang-orang
pribumi, terutama keturunan bangsawannya. Dengan perkawinan itu, terbentuklah
ikatan kekerabatan dgn keluarga muslim.
Media seni,
baik seni bangunan, pahat, ukir, tari, sastra, maupun musik, serta media
lainnya, dijadikan pula sebagai media atau sarana dalam proses islamisasi.
Berdasarkan berbagai peninggalan seni bangunan dan seni ukir pada masa-masa
penyeberan agama Islam, terbukti bahwa proses islamisasi dilakukan dgn cara
damai. Kecuali itu, dilihat dari segi ilmu jiwa dan taktik, penerusan
tradisi seni bangunan dan seni ukir pra-Islam merupakan alat islamisasi yang
sangat bijaksana dan dengan mudah menarik orang-orang nonmuslim untuk dengan
lambat-laun memeluk Islam sebagai pedoman hidupnya.
Dalam
perkembangan selanjutnya, golongan penerima dapat menjadi pembawa atau penyebar
Islam untuk orang lain di luar golongan atau daerahnya. Dalam hal ini,
kontinuitas antara penerima dan penyebar terus terpelihara dan dimungkinkan
sebagai sistem pembinaan calon-calon pemberi ajaran tersebut. Biasanya
santri-santri pandai, yang telah lama belajar seluk-beluk agama Islam di suatu
tempat dan kemudian kembali ke daerahnya, akan menjadi pembawa dan penyebar
ajaran Islam yang telah diperolehnya. Mereka kemudian mendirikan pondok-pondok
pesantren. Pondok pesantren merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran
agama Islam.
Agama Islam
juga membawa perubahan sosial dan budaya, yakni memperhalus dan
memperkembangkan budaya Indonesia. Penyesuaian antara adat dan syariah di
berbagai daerah di Indonesia selalu terjadi, meskipun kadang-kadang dalam taraf
permulaan mengalami proses pertentangan dalam masyarakat. Meskipun demikian,
proses islamisasi di berbagai tempat di Indonesia dilakukan dengan cara yang
dapat diterima oleh rakyat setempat, sehingga kehidupan keagamaan masyarakat
pada umumnya menunjukkan unsur campuran antara Islam dengan kepercayaan
sebelumnya. Hal tersebut dilakukan oleh penyebar Islam karena di Indonesia
telah sejak lama terdapat agama (Hindu-Budha) dan kepercayaan animisme.
Pada umumnya kedatangan Islam dan cara
menyebarkannya kepada golongan bangsawan maupun rakyat umum dilakukan dengan
cara damai, melalui perdagangan sebagai sarana dakwah oleh para mubalig atau
orang-orang alim. Kadang-kadang pula golongan bangsawan menjadikan Islam
sebagai alat politik untuk mempertahankan atau mencapai kedudukannya, terutama
dalam mewujudkan suatu kerajaan Islam.
Perkembangan Islam di Indonesia
Kedatangan
Islam di berbagai daerah di Indonesia tidaklah bersamaan. Demikian pula dengan
kerajaan-kerajaan dan daerah yang didatanginya, ia mempunyai situasi politik
dan sosial budaya yang berlainan. Pada waktu kerajaan Sriwijaya mengembangkan
kekuasaannya pada sekitar abad ke-7 dan ke-8, Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh
para pedagang muslim dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan
Asia Timur. Berdasarkan berita Cina zaman T’ang pada abad-abad tersebut, diduga
masyarakat muslim telah ada, baik di kanfu (kanton) maupun di daerah Sumatra
sendiri. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional
antara negeri-negeri di Asia bagian barat atau timur mungkin disebabkan oleh
kegiatan kerajaan Islam di bawah Bani Umayah di bagian barat maupun kerajaan
Cina zaman dinasti T’ang di Asia Timur serta kerajaan Sriwijaya di Asia
Tenggara. Adalah suatu kemungkinan bahwa menjelang abad ke-10 para pedagang
Islam telah menetap di pusat-pusat perdagangan yang penting di kepulauan
Indonesia, terutama di pulau-pulau yang terletak di Selat Malaka, terusan sempit
dalam rute pelayaran laut dari negeri-negeri Islam ke Cina. Tiga abad kemudian,
menurut dokumen-dokumen sejarah tertua, permukiman orang-orang Islam didirikan
di Perlak dan Samudra Pasai di Timur Laut pantai Sumatra.
Saudagar-saudagar
dari Arab Selatan semenanjung tanah Arab yang melakukan perdagangan ke tanah
Melayu sekitar 630 M (tahun kesembilan Hijriah) telah menemui bahwa di sana
banyak yang telah memeluk Islam. Hal ini membuktikan bahwa Islam telah masuk ke
Indonesia sejak abad-abad pertama Hijriah, atau sekitar abad ke tujuh dan
kedelapan Masehi yang dibawa langsung oleh saudagar dari Arab. Dengan demikian,
dakwah Islam telah tiba di tanah Melayu sekitar tahun 630 M tatkala Nabi
Muhammad saw. masih hidup. Keterangan lebih lanjut tentang masuknya Islam ke
Indonesia ditemukan pada berita dari Marcopolo, bahwa pada tahun 1292 ia pernah
singgah di bagian utara daerah Aceh dalam perjalanannya dari Tiongkok ke Persia
melalui laut. Di Perlak ia menjumpai penduduk yang telah memeluk Islam dan
banyak para pedagang Islam dari India yang giat menyebarkan agama itu.
Para pedagang
muslim menjadi pendukung daerah-daerah Islam yang muncul kemudian, dan daerah
yang menyatakan dirinya sebagai kerajaan yang bercorak Islam ialah Samudra
Pasai di pesisir timur laut Aceh. Munculnya daerah tersebut sebagai kerajaan
Islam yang pertama diperkirakan mulai abad ke-13. Hal itu dimungkinkan dari
hasil proses islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi para
pedagang muslim sejak abad ketujuh. Sultan yang pertama dari kerajaan Islam
Samudra Pasai adalah Sultan Malik al-Saleh yang memerintah pada tahun 1292
hingga 1297. Sultan ini kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Sultan
Muhammad Malik az-Zahir. Kerajaan Islam Samudra Pasai menjadi pusat studi agama
Islam dan meru pakan tempat berkumpul para ulama Islam dari berbagai negara
Islam untuk berdis kusi tentang masalah-masalah keagamaan dan masalah
keduniawian. Berdasarkan berita dari Ibnu Batutah, seorang pengembara asal
Maroko yang mengunjungi Samudra Pasai pada 1345, dikabarkan bahwa pada waktu ia
mengunjungi kerajaan itu, Samudra Pasai berada pada puncak kejayaannya. Dari
catatan lain yang ditinggalkan Ibnu Batutah, dapat diketahui bahwa pada masa
itu kerajaan Samudra Pasai merupakan pelabuhan yang sangat penting, tempat
kapal-kapal datang dari Tiongkok dan India serta dari tempat-tempat lain di
Indonesia, singgah dan bertemu untuk memuat dan membongkar barang-barang
dagangannya.
Kerajaan
Samudera Pasai makin berkembang dalam bidang agama Islam, politik, perdagangan,
dan pelayaran. Hubungan dengan Malaka makin ramai, sehingga di Malaka pun sejak
abad ke-14 timbul corak masyarakat muslim. Perkembangan masyarakat muslim di
Malaka makin lama makin meluas dan akhirnya pada awal abad ke-15 berdiri
kerajaan Islam Malaka. Para penganut agama Islam diberi hak-hak istimewa,
bahkan telah dibangunkan sebuah masjid untuk mereka. Para pedagang yang singgah
di Malaka kemudian banyak yang menganut agama Islam dan menjadi penyebar agama
Islam ke seluruh kepulauan Nusantara, tempat mereka mengadakan transaksi
perdagangan.
Kerajaan Malaka
pertama kali didirikan oleh Paramisora pada abad ke-15. Menurut cerita, sesaat
sebelum meninggal dalam tahun 1414, Paramisora masuk Islam, kemudian berganti
nama menjadi Iskandar Syah. Selanjutnya, kerajaan Malaka dikembangkan oleh
putranya yang bernama Muhammad Iskandar Syah (1414–1445). Pengganti Muhammad
Iskandar Syah adalah Sultan Mudzafar Syah (1445–1458). Di bawah
pemerintahannya, Malaka menjadi pusat perdagangan antara Timur dan Barat, dengan
kemajuan-kemajuan yang sangat pesat, sehingga jauh meninggalkan Samudra Pasai.
Usaha mengembangkan Malaka hingga mencapai puncak kejayaannya dilakukan oleh
Sultan Mansyur Syah (1458–1477) sampai pd masa pemerintahan Sultan Alaudin Syah
(1477–1488).
Sementara itu,
kedatangan pengaruh Islam ke wilayah Indonesia bagian timur (Sulawesi dan
Maluku) tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara
pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Menurut
tradisi setempat, sejak abad ke-14, Islam telah sampai ke daerah Maluku.
Disebutkan bahwa kerajaan Ternate ke-12, Molomateya (1350–1357), bersahabat
karib dengan orang Arab yg memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal, tetapi
agaknya tidak dalam kepercayaan.
Pada masa pemerintahan
Marhum di Ternate, datanglah seorang raja dari Jawa yang bernama Maulana Malik
Husayn yang menunjukkan kemahiran menulis huruf Arab yang ajaib seperti yang
tertulis dalam Alquran. Hal ini sangat menarik hati Marhum dan orang-orang di
Maluku. Kemudian, ia diminta oleh mereka agar mau mengajarkan huruf-huruf yang
indah itu. Sebaliknya, Maulana Malik Husayn mengajukan permintaan, agar mereka
tidak hanya mempelajari huruf Arab, melainkan pula diharuskan mempelajari agama
Islam. Demikianlah Maulana Malik Husayn berhasil mengislamkan orang-orang
Maluku. Raja Ternate yang dianggap benar-benar memeluk Islam adalah Zainal
Abidin (1486–1500).
Dari ketiga
pusat kegiatan Islam itulah, maka Islam menyebar dan meluas memasuki
pelosok-pelosok kepulauan Nusantara. Penyebaran yang nyata terjadi pada abad
ke-16. Dari Malaka, daerah Kampar, Indragiri, dan Riau menjadi Islam. Dari
Aceh, Islam meluas sampai ke Minangkabau, Bengkulu, dan Jambi. Dimulai sejak
dari Demak, maka sebagian besar Pulau Jawa telah menganut agama Islam.
Banten yang
diislamkan oleh Demak meluaskan dan menyebarkan Islam ke Sumatra Selatan. Di
Kalimantan, kerajaan Brunai yang pada abad ke-16 menjadi Islam, meluaskan
penyebaran Islam di bagian barat Kalimantan dan Filipina. Sedangkan Kalimantan
Selatan mendapatkan pengaruh Islam dari daratan Jawa. Dari Ternate semakin
meluas meliputi pulau-pulau di seluruh Maluku serta daerah pantai timur
Sulawesi. Pada abad ke-16 di Sulawesi Selatan berdiri kerajaan Goa. Demikianlah
pada akhir abad ke-16 dapat dikatakan bahwa Islam telah tersebar dan mulai
meresapkan akar-akarnya di seluruh Nusantara.
Meresapnya
Islam di Indonesia pada abad ke-16 itu bersamaan pula dengan ditanamkannya
benih-benih agama Katolik oleh orang-orang Portugis. Bangsa Portugis ini
dikenal sebagai penentang Islam dan pemeluk agama Katolik fanatik. Maka, di
setiap tempat yang mereka datangi, di sanalah mereka berusaha mendapatkan
daerah tempat persemaian bagi agama Katolik. Hal ini menurut tanggapan mereka
merupakan suatu tugas dan kewajiban yang mendapat dorongan dari pengalaman
mereka menghadapi Islam di negeri mereka sendiri. Ketika pertahanan Islam
terakhir di Granada jatuh pada 1492, maka dalam usaha mereka mendesak agama
Islam sejauh mungkin dari Spanyol dan Portugis, mereka memperluas gerakannya
sampai Timur Tengah yang waktu itu menjadi daerah perantara perdagangan
rempah-rempah yang menghubungkan Timur dengan Barat. Timbullah kemudian suatu
hasrat dalam jiwa dagang mereka untuk berusaha sendiri mendapatkan
rempah-rempah yang menjadi pokok perdagangan waktu itu langsung dari daerah
penghasilnya (Nusantara). Dengan demikian, mereka tidak akan bergantung lagi
kepada pedagang-pedangan Islam di Timur Tengah.
Islamisasi di Afganistan
Islam masuk di
Afganistan sejak masa Khalifah Usman bin Affan (644-656 M). pada tahun 647 M
pasukan Islam mengadakan perluasan daerah ke Khurasan dipimpin oleh panglima
Sa’ad bin Ash. Setelah terjadi pertempuran yang sangat sengit, akhirnya
kemenangan di pihak pasukan Islam. Khurasan adalah suatu daerah yang terdapat
di sebelah tenggara Iran berbatasan dengan bekas Uni Soviet. Bagian timur dan
selatan daerah ini merupakan rangkaian pegunungan dan di sebelah barat
merupakan bagian dari gurun-gurun Desyt-I-Kevir. Di daerah Oase dan
lembah-lembah sungai merupakan daerah pertanian. Usaha industri, terutama
permadani dan tekstil (katun) cukup terkenal di daerah itu. Pada masa sekarang
Khurasan sebelah timur adalah termasuk wilayah Afganistan. Islam yang masuk di
Afganistan mula-mula pada tahun 647 M sampai sekarang masih dianut oleh
penduduk Afganistan pada umumnya.
Pada akhir abad
ke-7, orang-orang Arab Umayyah masuk ke wilayah yang sekarang dikenal sebagai
Afghanistan setelah mengalahkan tegas Sassanians di Nihawand. Setelah kekalahan
ini kolosal, yang terakhir kaisar Sassania, Yazdegerd III, yang menjadi buronan
diburu, melarikan diri ke timur jauh keAsia Tengah. Dalam mengejar Yazdegerd,
rute Arab yang dipilih untuk masuk kawasan itu dari Iran utara-timur dan
selanjutnya ke Herat di mana mereka ditempatkan sebagian besar pasukan mereka
sebelum maju ke Afghanistan timur. Orang-orang Arab yang diberikan upaya besar
terhadap menyebarkan Islam di kalangan penduduk setempat.
Sejumlah besar penduduk wilayah yang terdiri
dari Afghanistan utara menerima Islam melalui upaya misionaris Umayyah terutama
di bawah pemerintahan Hisyam bin Abdul-Malik dan Umar bin Abdul-Aziz. Selama
masa pemerintahan Al-Mu'tashim, Islam pada umumnya dipraktekkan di antara
sebagian besar penduduk wilayah ini dan akhirnya di bawah Yakub Laith-i Saffari,
Islam sejauh ini, yang mendominasi agama Kabul bersama dengan kota-kota besar
lainnya di Afganistan modern. Sisa-sisa kehadiran Shahi di perbatasan
Afghanistan timur diusir oleh Mahmud dari Ghazni selama tahun 998 dan 1030.
Islamisasi di Afika Utara
1) Pada masa nabi Muhammad
Pada masa Nabi Muhammad pertama kali ada kontak Islam di Afrika
yaitu setelah beberapa sahabatya hijrah ke Habsy dan di sana mereka mendapat
perlakuan baik dari masyarakat maupun dari penguasa, yaitu raja Najjasyi atau
Negus.
2) Pada masa Khalifah Umar ibn
Khatab
Pada masa ini Panglima Amr ibn Ash menguasasi Mesir (639-644 M)
setelah mengalahkan tentara Bizantium di mana sepuluh tahun sebelumnya Mesir
berada di bawah kekuasaan Sasanta. Kota Fustat dijadikan sebagai ibu kota Islam
pertama di bumi Afrika.
3) Pada masa Usman ibn Affan
3) Pada masa Usman ibn Affan
Khalifah ke tiga ini mengirim Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah
yang berhasil mengalahkan tentara Romawi di Laut Tengah dan mengalahkan tentara
Bizantium lalu terus maju sampai ke Barqah dan Tripoli yang jatuh di tangannya.
Kemudian pasukan Abdullah maju ke arah Carthage, ibu kota Romawi di Afrika
Utara waktu itu. Hal ini menjadikan Raja Constantine III sangat marah dan dia
menginginkan untuk merebut kembali wilayah kekuasaannya dari tangan kaum
muslim. Pada saat itu situasi politik di Madinah kurang mendukung untuk
melanjutkan perang yang akhirnya Khalifah Usman terbunuh dan keadaan kacaun sampai
Khalifah Ali juga terbunuh.
4) Dinasti Umayyah
Pada masa Muawiyah ibn Abi Sofyan, diutuslah seorang yang bernama
Uqbah ibn Nafi menjadi gubernur di Afrika pada 666 M dengan ibu kota di Fustat.
Ia memimpin pasukan menghadapi tentara musuh yang mengacau di Fezzaan (sekarang
daerah Libya Selatan) dan Wardan. Uqbahlah yang pertama kali menembus padang
pasir Sahara, menembus wilayah-wilayah Sudan termasuk Ghana dan membuka jalan
sampai ke kota Awdaghost bahkan Uqbah dapat menembus daerah-daerah sampai ke
Kawar dan beberapa wilayah Negro antara 666-671 M. Namun, ia dipecat dari
jabatan gubernur dan diganti dengan Abul muhajir. Uqbah kembali ke Damaskus dan
melakukan protes terhadap Muawiyah namun Muawiyah tidak meresponnya, kemudian
Muawiyah memberikan alasan bahwa diberhentikannya Uqbah adalah atas kemauan
Maslamah sebagai penguasa seluruh daerah Afrika. Oleh karena itu Muawiyah tidak
berhak campur tangan. Muawiyah tidak dapat berbuat sesuatu untuk Uqbah karena
ia memiiki perjanjian rahasia dengan Maslamah dan Abul muhajir. Muawiyah telah
berjanji kepada Maslamah dan Abul muhaji jika mereka berdua berhasil
menggulungkan Muhammad ibn Abi Bakar sebagai pengusa Mesir semasa Khalifah Ali
dan dapat menganeksasi kembali Mesir sebagai wilayah kekuasaan Umayyah maka
mereka akan diberi hadiah yang istimewa. Maslamah sudah diangkat menjadi
penguasa Mesir kemudian kini giliran Abul muhajir yang diberi kekuasaan sebagai
penguasa Ifriqiyah tanpa mengindahkan sama sekali jasa-jasa Uqbah. Kemudian
Abul Muhajir menghancurkan masjid Qayrawan dan kota yang telah dibangun oleh
Uqbah kemudian membangunnya kembali agar sejarah mencatat namanya sebagai
pendiri kota dan masjid Qayrawan.
Setelah wafatnya Muawiyah, putranya yaitu Yazid menjadi khalifah.
Uqbah membuka kembali gugatannya dan berhasil merebut hati Yazid. Yazid memihak
Uqbah dan Abul Muhajir pun menjadi bawahannya, kemudian Uqbah menghancurkan
kota dan msjid Qayrawan lalu membangunnya kembali.
Pada periode kedua masa Yazid I, Uqbah memperluas wilayah
kekuasaannya sampai Maroko. Berarti seluruh Ifriqiyah dan daerah al-Maghrib
al-Aqsa jatuh di tangannya dengan amat cepat dalam waktu yang sangat singkat,
maka Uqbah dijuluki sebagai Alexander Muslim. Setelah berhasil dalam
penakhlukkan terakhir, ketika dalam perjalanannya ke Qayrawan Uqbah gugur dalam
pertempuran dengan kepala suku Berber, Kusaila di Tahuza (juga disebut Ahuza).
Selain sebagai penakhluk, Uqbah hidup abadi dengan bangunan kota dan masjid
Qayrawan. Sampai sekarang masjid bersudut lima tersebut (satu-satunya di dunia)
yang ia bangun pada 681 M masih ada dengan nama masjid Sidi Uqbah dan masih
utuh bentuk keasliannya.
Setelah meguasai Tahuza, Kusaila menguasai Qayrawan yang menyebabkan sebagian tentara Arab lari ke Mesir. Walaupun Kusailah telah masuk Islam tapi di mata orang-orang Arab, bangsa Berber jauh lebih rendah. Hal ini menyebabkan mereka bersatu dengan musuh utama Arab yaitu Bizantium yang ada di Sisillia dan orang Berber pun berhasil menghalau kaum muslim dari seluruh al-Maghrib dan Ifriqiyah.
Setelah meguasai Tahuza, Kusaila menguasai Qayrawan yang menyebabkan sebagian tentara Arab lari ke Mesir. Walaupun Kusailah telah masuk Islam tapi di mata orang-orang Arab, bangsa Berber jauh lebih rendah. Hal ini menyebabkan mereka bersatu dengan musuh utama Arab yaitu Bizantium yang ada di Sisillia dan orang Berber pun berhasil menghalau kaum muslim dari seluruh al-Maghrib dan Ifriqiyah.
Setelah Abd al-Malik ibn Marwan memegang tampuk kekuasaan
kekhalifahan Umayyah, ia mengutus Zuhair ibn Qais al-Balawi, yaitu wakil setia
Uqbah ibn Nafi sebagai penguasa Afrika Utara sebagai panglima baru menggantikan
Uqbah. Ia berhasil mengalahkan dan membunuh Kusailah dan memukul mundur pasukan
gabungan Berber dan Bizantium dari Qayrawan. Panglima kembali ke Barqah untuk
mempertahankan kota itu dari serangan Bizantium . Akhirnya Zuhair gugur dalam
serangan Bizantium.
Khalifah Abd al-Malik sangat cemas atas gugurnya Zuhair di Barqah,
maka lebih terdorong untuk cepat memulihkan kembali keunggulan dan kewibawaan
Arab di sana maka ia pun mengirim Hasan ibn Nu’man sebagai pengganti Zuhair.
Sementara di Timur orang Arab disibukkan dengan perang saudara yang menyebabkan
pemerintahan pusat kurang memperhatikan Afrika, di samping itu orang Berber
yang telah menguasai wilayah Ifriqiyah, muncul Kusailah II, Kahina (pendeta
wanita, yakni ahli nuzum). Kisah-kisah pada periode ini kurang jelas baik
secara fakta dan urut-urutan kejadiannya belum dipastikan. Setelah musuh-musuh
politik di Timur dapat dikikis, khalifah segera menoleh kembali ke Afrika. Selanjutnya,
Musa ibn Nusair diangkat menjadi Gubernur Jenderal menggantikan Hasan (709 M).
Sebagai catatan, pada akhir kekuasaan dua penguasa Afrika Utara itu, anak
turunan dari Kahina banyak konversi Islam yang dalam sejarahnya disebut Mawali.
PROSES AWAL ISLAMISASI DI TANAH PAPUA
Islam adalah suatu agama baru yang lahir di
semenanjung Arabia sesudah agama Yahudi dan Kristen, dan merupakan agama
terakhir dalam sejarah agama-agama terbesar didunia. Suatu agama wahyu yang
bersifat Monotesis karena menerima wahyu dari Allah dan mengajarkan tentang
Tuhan atau Allah Yang Esa (ajaran Tauhid). Islam mewajibkan para pengikutnya
untuk melakukan dakwah (pewartaan) kepada ummat manusia tentang Allah yang
Esa.
Kurang lebih seratus tahun setelah wafatnya
nabi Muhammad saw, Islam mulai bergerak keluar dari tanah kelahirannya dan
memasuki wilayah negara-negara tetangga di sekitar. Tujuan disebarkannya ajaran
agama Islam sejak kelahiran dan perkembangannya ke berbagai penjuru dunia,
bahkan ke Indonesia pun telah banyak di ketahui dalam sejarah bangsa-bangsa.
Namun sejarah kedatangan ajaran agama Islam di tanah Papua masih merupakan
sebuah polemic dan belum banyak diketahui, termasuk masuknya ajaran islam
melalui pintu di semenanjung Onin Fakfak. Hal ini disebabkan karena ketiadaan
literatur tertulis tentang historiografi masuknya ajaran agama Islam.
Sejauh menyangkut kedatangan Islam di
Nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai
tiga masalah pokok: tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu
kedatangannya. Berbagai teori dan pembahasan yang berusaha menjawab ketiga
masalah pokok ini jelas belum tuntas, tidak hanya karena kurangnya data yang
dapat mendukung suatu teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak dari
berbagai teori yang ada.
Terdapat kecenderungan kuat, suatu teori
tertentu menekankan hanya aspek-aspek khusus dari ketiga masalah pokok,
sementara mengabaikan aspek-aspek lainnya. Karena itu, kebanyakan teori yang
ada dalam segi-segi tertentu gagal menjelaskan kedatangan Islam, konversi agama
yang terjadi, dan proses-proses Islamisasi yang terlibat di dalamnya. Dalam perjalanannya, penyebaran Islam
di tanah Papua dalam berbagai penelitian ilmiah telah menunjukan, bahwa wilayah
Semenanjung Onin (Fakfak) di tanah Papua merupakan salah satu wilayah sentuhan
batas akhir dari proses penyebaran Islam di dunia. Sebab penyiaran Islam tidak
berhenti di Philipina dan atau Maluku seperti yang diduga selama ini, akan
tetapi di Semenanjung Onin kabupaten Fakfak.
Dalam buku Sejarah Masuknya Islam di Fakfak yang disusun oleh Tim Ahli dari
Pemerintah Daerah Fakfak tahun 2006, menyimpulkan bahwa Islam masuk di Fakfak
pada tanggal 8 Agustus 1360 M dengan kehadiran mubaligh Abdul Ghaffar asal Aceh
di Fatagar Lama, Kampung Rumbati Fakfak. Penetapan tanggal awal masuknya Islam
tersebut berdasarkan tradisi lisan yang disampaikan oleh Putra Bungsu Raja
Rumbati XVI (Muhammad Sidik Bauw) dan Raja Rumbati XVII (H. Ismail Samali
Bauw). Mubaligh Abdul Ghaffar berdakwah selama 14 tahun (1360 – 1374 M) di
Rumbati dan sekitarnya, kemudian ia wafat dan dimakamkan dibelakang Masjid
Kampung Rumbati pada tahun 1374 M.
Informasi lain tentang Abdul Gafur mubaligh
asal Aceh, yang disampaikan Ibrahim Bauw (Raja Rumbati), bahwa Adul Gafur dan
teman-temannya mendarat di Fatagar Lama, yang sebelumnya mencari rempah-rempah
di Ternate, Bacan (Maluku Utara), dan pulau
Misool. Menurutnya peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1502 M, yakni pada masa berkuasanya Raja Rumbati
Mansmamor (Manimbo). Hingga saat ini makam Gafur masih terdapat di samping
masjid kampung Rumbati, Teluk Patipi Fakfak, seperti yang dikutip Ismael Bauw
dalam tulisannya. Pernyataan H.A.R. Gibb, seorang sarjana barat yang dikenal
luas sebagai orientalis menegaskan tentang penyebaran Islam ke Asia Tenggara
(Semenanjung Malaya), kepulauan Indonesia dan philipina sebagai berikut :
In the malay archipelago itself Islam gained
afooting in Sumatra and Java throght traders in the thirt and fourteenth
centuries, and gradually spread, partly by the exploits of military chieftains
but more effectively through peaceful penetration,especially in Java. From
Sumatra it was carried by colonists to the malay peninsula, and from Java to
the Moluccas, and it has gained a more or less firm footing in all the islands
eastwards to the sulu archipelago and Mindanao in the Philipines. Pernyaataan diatas ini memperlihatkan bahwa
sejarah ekspansi (gerakan keluar) dan penyebaran Islam sebagai mana nampak
dalam peta penyebarannya di mulai pantai barat benua Afrika di Samudera
Atlantik hingga Sulu di Philipina bagian selatan, dan berakhir di kepulauan
Maluku.
Uraian Gibb ini memperlihatkan pula, bahwa
wilayah Semenanjung Onin di tanah Papua, tidak termasuk dalam peta penyebaran
yang dikenal luas. Keadaa,n ini menunjukkan tentang adanya ketidaktahuan, serta
tidak adanya pengenalan dan pemahaman yang baik dan jelas, terhadap penyebaran
Islam sampai ke kepulakuan Raja Ampat di Sorong dan Semenanjung Onin (Fakfak di
tanah Papua. Kelangkaan ini diakibatkan oleh tidak tersedianya informasi
tertulis, baik dari para penulis Islam, maupun para pedagang yang menyebarkan
agama Islam dan para ilmuwan non Islam tentang
keadaan sesungguhnya yang terjadi dalam penyebaran itu. Hal ini diakibatkan
kemungkinan bahwa para ahli sejarah, ilmu agama, dan para orientalis yang melakukan
studi tentang Islam dunia masih beranggapan, atau melihat tanah Papua sebagai
suatu pulau yang besar dan penuh dengan misteri dan hanya di huni oleh penduduk
primitif yang masih menganut agama nenek moyang, yakni animisme dan dinamisme.
Penelitian ilmiah lainnya yang dilakukan Thomas
W. Arnold seorang orientalis Inggris dalam bukunya The Preaching of Islam, berdasarkan sumber-sumber
primer dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris dan lain-lainnya.
Mencatat bahwa pada abad
ke-16, suku-suku di Irian Jaya serta pulau-pulau di sebelah barat lautnya,
seperti Waigeo, Misool, Waigama, dan Salawati, telah tunduk kepada Sultan Bacan salah seorang Raja Maluku. Kemudian
Sultan Bacan meluaskan kekuasaannya sampai semenanjung Onin (Fakfak), di barat
laut Irian pada tahun 1606,
melalui pengaruhnya dan pedagang Muslim maka para pemuka masyarakat pulau-pulau
tadi memeluk Agama Islam. Meskipun masyarakat pedalaman masih tetap menganut
animisme, tetapi rakyat pesisir adalah Islam. Dari
keterangan-keterangan sumber lokal di atas, dapat diasumsikan bahwa Islam telah dikenal oleh masyarakat
Papua (darah Kepala Burung) melalui kontak dagang dengan para pedagang Muslim
Maluku sekitar abad antara abad ke-14. Perbedaaan sumber tradisi lisan dari
keturunan Sultan di Maluku dan keturunan Raja-raja di Fakfak (juga di Raja
Ampat dan lain-lain), memang perlu diteliti dan dianalisis lebih dalam. Silang pendapat terjadi diakibatkan
oleh prakiraan atau barangkali tuturan lisan dari sumber-sumber informasi yang
kurang begitu mengetahui dengan baik peristiwa-peristiwa sejarah yang jauh
beberpa abad dibelakangnya.
Sementara itu Thomas W.Arnold ( 1979 )
menuliskan kesaksiannya menyatakan bahwa Agama Islam disambut dengan hangat
oleh suku-suku bangsa yang lebih maju peradabannya diantara penduduk kepulauan
Nusantara dan kurang mendalam dikalangan penduduk yang lebih
bersahaja.Demikianlah misalnya suku-suku
didaratan Papua serta pulau-pulau sebelah barat lautnya seperti Waigeo, Misool
,Waigama,dan Salawati .Pulau-pulau tersebut breikut Semenanjung Onin di barat
laut daratan Papua pada abad XVI tunduk kepada Sultan Bacan, salah seorang Raja
Maluku. Melalui pengaruh Raja Bacan ini maka para pemuka masyarakat pulau-pulau
tadi memeluk Islam dan meskipun massa rakyat pedalaman masih tetap menganut
animisme,tetapi rakyat pesisir adalah Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar